Kebenaran Tuhan dapat datang dan diajarkan dari segala sumber, termasuk melalui sebuah film. Kingdom of Heaven adalah salah satu film yang selalu ada di hati saya. Kita dapat mengkritik akurasi sejarah film tersebut, character development-nya, dan kekerasan yang ada di dalamnya. Tetapi, film ini tetap memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada saya.
Total sebanyak lima kali saya menonton film ini dengan tingkat pemahaman yang berbeda. Kali ini adalah pelajaran yang saya dapatkan dari pemahaman saya sekarang.
Hubungan dengan Sesama & Kehidupan Manusia
Kehidupan di Bumi
Ada kalanya sebagai manusia kita terbuai terhadap hasil akhir yang akan kita terima ketika kita melakukan hal baik. Kita terbuai oleh hal-hal indah yang diharapkan terjadi namun belum terjadi. Ilusi ini membuat kita melupakan realita saat ini dan abai untuk melakukan hal nyata yang berdampak, seperti membantu orang lain, bersikap sopan, berdonasi, memberikan cinta, dan hal lainnya.
"Surga", kebahagiaan, dan kedamaian adalah sebuah pencapaian ketika seseorang mampu menerima semua penderitaan, melepas egonya, dan berbuat baik sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

Urip Iku Urup
Lho kok tiba-tiba ada bahasa Jawa? Iya, di balok penyangga bengkel milik Balian tertulis kalimat latin, "Nemo vir est qui mundum non reddat meliorem." Yang artinya : "Tidak seorang pun pantas disebut laki-laki, jika dia tidak membuat dunia menjadi lebih baik." Walaupun kalimat latinnya menggunakan sebutan untuk laki-laki, pesan ini berlaku untuk seluruh manusia, apapun jenis kelaminnya. Begitu juga arti dari "urip iku urup", hidup seharusnya memberi manfaat. Bagi semua makhluk hidup, jiwa lain, dan bumi.

Berbuat Baik
Dalam perjalanan ke Yerusalem, Balian berhasil mengalahkan seorang ksatria penunggang kuda yang hebat. Menurut aturan, pelayan dari ksatria itu seharusnya menjadi budak Balian. Tetapi Balian memutuskan untuk melepaskan pelayan itu. Pelayan tersebut kemudian berkata:
Your quality will be known among your enemies before ever you meet them, my friend.
Kualitas dirimu akan dikenal di antara musuh-musuhmu bahkan sebelum engkau bertemu dengan mereka, kawan.
Kebaikan yang dilakukan Balian ini pada akhirnya kembali ke dirinya sendiri. Karena sebenarnya pelayan itulah yang merupakan ksatria asli, sedangkan yang Balian kalahkan hanyalah pelayannya.
Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai.
Kita pun harus mengingat untuk menjadi saluran kebaikan bagi orang lain. Jangan biarkan kebaikan yang kita terima berhenti di diri kita saja. Ketika kita mendapatkan sebuah hal baik. Salurkanlah hal baik tersebut juga ke orang lain.


Tabur Tuai
Dalam pertemuan Balian dengan Raja Baldwin IV, Sang Raja mengatakan hal ini :
A king may move a man, a father may claim a son, but that man can also move himself, and only then does that man truly begin his own game. Remember that howsoever you are played or by whom, your soul is in your keeping alone, even though those who presume to play you be kings or men of power. When you stand before God, you cannot say, 'But I was told by others to do thus,' or that virtue was not convenient at the time. This will not suffice. Remember that."
------
Seorang raja boleh memindahkan seorang pria, seorang ayah boleh mengklaim seorang putra, tetapi pria itu pun bisa menggerakkan dirinya sendiri dan hanya saat itulah ia benar-benar memulai permainannya sendiri.
Ingatlah bahwa bagaimanapun kau dimainkan dan oleh siapa pun, jiwamu hanya ada dalam penjagaanmu sendiri — meskipun mereka yang mengira bisa memainkanmu adalah raja-raja atau orang-orang berkuasa.
Saat kau berdiri di hadapan Tuhan, kau tidak bisa berkata, 'Tapi aku diperintahkan orang lain untuk berbuat begini,' atau bahwa kebajikan tidak mudah dilakukan saat itu.
Itu tidak akan cukup. Ingatlah itu.
Konsekuensi dari apa yang dilakukan seorang manusia tidak akan dapat dipindahtangankan, diturunkan, ataupun dihilangkan. Tiap manusia akan menerima segala hal baik dan buruk yang telah dirinya lakukan.
Tiap manusia mempunyai kelayakannya sendiri untuk segala hal. Kelayakan untuk menerima sesuatu, kelayakan untuk berada di kondisi tertentu, kelayakan untuk berada di lokasi tertentu, dan seterusnya. Kelayakan ini merupakan hasil tuaian dari hal baik buruk yang sebelumnya dia lakukan.
Tiap manusia bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Baik tindakan yang dapat membersihkan jiwa mereka, maupun tindakan yang dapat mengotori jiwa mereka.
Bagian ini menurut saya sangat penting "..tetapi pria itu pun bisa menggerakkan dirinya sendiri dan hanya saat itulah ia benar-benar memulai permainannya sendiri." Hanya seseorang yang benar-benar mengenali jati dirinya yang akan mampu berjalan di jalan kebenaran. Jika belum, maka orang tersebut akan mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Jiwa Pemimpin
Adegan ini menunjukkan Balian bekerja bersama rakyat Ibelin untuk mencari air dengan menggali tanah. Sangat sering kita mengdengar pesan ini, bahwa pemimpin sejati memimpin melalui teladan dan tindakan. Dia tidak hanya menyuruh, tapi ikut untuk turun tangan (sesuai dengan kemampuan dirinya).

Pada adegan lain ketika Salah ad-Din bertemu dengan Baldwin IV, Salah ad-Din justru mengirimkan dokter untuk membantu meringankan sakit lepra yang diderita oleh Baldwin IV.
QS. Al-Mumtahanah (60):8 — "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negaramu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
Roma 12:19-21 — Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 21Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Hal ini pun ditunjukkan oleh Balian juga ketika Guy de Lusignan mencoba mengalahkan Balian setelah Yerusalem ada di tangan Salah ad-Din. Walaupun Guy merupakan musuh, Balian tidak membunuh Guy. Malah dia mengingkatkan sumpah ksatria yang sebelumnya pernah diambil oleh Guy.
Pemimpin sejati bertindak sesuai dengan perkataannya dan apa yang diyakininya sesuai dengan konteks situasi yang tepat.


Meminta Maaf dan Memaafkan
Siapapun diri kita, apapun jabatan kita, meminta maaf dan memaafkan adalah kebutuhan dasar untuk menuju ke kesucian Ilahi. Godfrey adalah seorang baron yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada Balian. Walaupun Balian adalah anaknya, kerendahan hati seperti ini mungkin jarang kita saksikan.
Seseorang yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi meminta maaf kepada orang yang lebih rendah? Butuh kerendahan hati yang luar biasa untuk mampu melakukan hal ini, apalagi dilakukan langsung bertatap muka. Meminta maaf dan memaafkan adalah pintu utama bagi seseorang untuk berjalan di jalan kebenaran. Ini merupakan sebuah keterampilan yang perlu untuk diasah.
Dengan meminta maaf dan memaafkan, orang tersebut pada dasarnya menyadari kesalahan mereka, mau memperbaiki hubungan, dan mampu melepaskan luka akibat hal buruk yang dilakukan orang lain.
Kita harus menyadari bahwa pengampunan dari Tuhan hanya akan diberikan sebanding dengan kelapangan dada kita untuk memaafkan orang lain.


Di adegan lain pun ditunjukkan ketika Raja Baldwin IV meminta maaf kepada adiknya atas penderitaan yang dia sebabkan karena sakit lepra yang dideritanya. Butuh kerendahan hati untuk memahami hal ini. Mengapa orang yang sakit butuh meminta maaf kepada orang yang sehat? Nggak masuk akal kan? Padahal posisinya adalah raja.
Kita harus mengingat bahwa orang lain tidak akan pernah menjadi sumber AWAL permasalahan diri kita. Orang lain hanyalah perantara Tuhan agar diri kita mendapatkan apa yang menjadi hasil tuaian diri kita. Ketika hal ini dipahami dengan mendalam, maka kita akan lebih rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan semua orang yang hadir dalam hidup kita.
Ini bukan berarti kita selalu menjadi pihak yang bersalah, melainkan menyadari bahwa semua hal yang kita perbuat secara sadar atau tidak, bisa jadi memberikan rasa tidak nyaman bagi orang lain.

Menghormati Satu Sama Lain
Balwin IV dan Salah ad-Din digambarkan sebagai karakter yang saling menghormati kepercayaan pihak yang lain. Baldwin IV memperbolehkan semua pihak datang ke Yerusalem karena itu adalah perbuatan yang benar.
Ketika Salah ad-Din memasuki Yerusalem, dia pun menghormati kepercayaan musuhnya dengan memperbaiki posisi salib. Tidak menginjak lambang salib dan memilih berjalan di pinggir lambang.


Menghadapi Ego Diri Sendiri
Sumpah Ksatria
Di abad pertengahan, menjadi seorang ksatria adalah sebuah jabatan yang bergengsi. Syarat utamanya adalah punya darah bangsawan, kecakapan bertarung, dan berpegang teguh pada sebuah sumpah. Sumpah ksatria versi film ini :
Be without fear in the face of your enemies, be brave and upright that God may love thee, speak the truth always even if it leads to your death, safeguard the helpless while doing no wrong.That is your oath.
Jangan takut menghadapi musuhmu, jadilah berani dan lurus agar Tuhan mencintaimu, selalu katakan kebenaran meskipun itu membawamu pada kematian, serta lindungi yang lemah dan jangan berbuat salah. Itulah sumpahmu.
Dalam konteks jaman sekarang, musuh kita bersama adalah ego diri sendiri dan kegelapan. Bukan orang lain yang memiliki perbedaan kepercayaan. Barangsiapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhan. Semakin sedikit kegelapan yang ada dalam diri, maka kekuatan Tuhan akan dapat masuk lebih banyak.
Balian juga pada akhirnya mengangkat banyak ksatria dari rakyat biasa ketika mempertahankan Yerusalem dari Salah ad-Din. Balian paham bahwa untuk menjadi seorang ksatria tidak berhubungan langsung dengan keturunan, tetapi pada kemampuan untuk menjalankan sumpah yang telah diikrarkan.

Memperjuangkan Kehidupan
Pada saat Balian mempertahankan Yerusalem, tidak ada kehadiran para ksatria karena banyak yang mati saata mengikuti Guy de Lusignan ataupun melarikan diri mengikuti Tiberias. Maka dalam keadaan tersebut Balian mengangkat rakyat biasa menjadi ksatria dengan menyebutkan sumpah ksatria.
Uskup Yerusalem kemudian bertanya :
Does making a man a knight, make him a better fighter?
Apakah menobatkan seorang pria menjadi ksatria membuatnya menjadi pejuang yang lebih baik?
Yang kemudian dijawab oleh Balian, "Ya."
Dalam menjalani hidup, walaupun kekuatan fisik sangat berguna, tapi jangan melupakan kekuatan mental. Sumpah Ksatria dapat mengubah pandangan hidup seseorang agar lebih memiliki daya juang, berserah, dan bersyukur kepada Tuhan lebih dalam.
Saat ini kita pun sebenarnya sedang melakukan perang. Perang terhadap ego diri sendiri. Perang terhadap gengsi kita untuk menerima semua hal baik dan buruk yang merupakan kelayakan kita. Seseorang dengan daya juang rendah mungkin akan mengambil jalan yang mudah jika diterpa banyak masalah, yaitu bunuh diri.
Tetaplah berjuang dan carilah "sumpah Ksatria" untuk kehidupan yang lebih baik. Kematian bukan akhir dari segalanya. Karena jiwa hanya akan dapat menyatu dengan Sang Pencipta ketika jiwa telah bersih dari segala kegelapan.

Ketika Balian kalah dalam mempertahankan Yerusalem, dia bertanya ke Salah ad-Din :
What is Jerusalem worth?
Berapa nilai Yerusalem?
Salah ad-Din menjawab : "nothing". Bagi dia yang berarti bukanlah nilai dari kotanya. Kemudian dia melanjutkan dengan gerakan mengepalkan tangan sambil berkata, "everything."
Perjuangan lah yang penting. Balian juga menyadari hal ini.
Dalam menjalani hidup, tiap manusia akan mempunyai hal-hal yang patut diperjuangkan. Jabatan, keluarga, pencapaian, ataupun kesucian dalam diri. Tidak ada jawaban yang salah, yang ada hanyalah kebenaran yang lebih tinggi. Selama yang kita perjuangkan itu mampu memberikan semangat ke dalam diri kita untuk menghormati hidup dan membuat diri lebih baik, kenapa tidak?




Jadilah Orang Bijak
Ketika Balian ingin menebus dosanya, dia bertanya kepada Godfrey, apakah di Yerusalam semua dosanya akan dihapus? Menurut pengalaman saya, jawaban dari Godfrey ini adalah jawaban yang bijak. Dalam konteks film ini, Godfrey sebenarnya ingin meyakinkan Balian agar mau ikut bersamanya ke Yerusalem.
Tapi tanpa adanya paksaan dan keterikatan. Godfrey mengajak Balian untuk mencari hasilnya bersama-sama. Dalam proses hubungan antar keluarga dan pasangan, menurut saya saat ini, bertumbuh bersama adalah proses yang sangat diperlukan.


Ego Jabatan
Sibylla yang sejak kecil merupakan keluarga kerajaan Yerusalem merasa kekalahan perang dengan Salah ad-Din adalah hal yang tidak adil. Dia tidak ingin melepas statusnya sebagai Ratu di wilayah lain. Balian kemudian mengungkapkan bahwa jika Sibylla memutuskan untuk tidak menjadi ratu, maka dia akan menghampiri.
Saya melihat hal ini sebenarnya bukan pesan antara manusia. Tetapi juga bisa dipahami sebagai pesan dari Tuhan ke manusia. Selama manusia tidak mampu melepas egonya, maka kekuatan Tuhan tidak dapat masuk. Ini seperti perkataan yang sering kita dengar :
Kosong adalah isi, isi adalah kosong
Yang makna sebenarnya adalah ketika manusia KOSONG akan ego, maka kekuatan Tuhan dapat ISI, masuk dalam dirinya. Tetapi ketika manusia berISI ego, maka kekuatan Tuhan KOSONG dalam dirinya.


Hubungan dengan Tuhan & Kesadaran Spiritual
Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan
Ketika Balian akhirnya bertemu kembali dengan Knight Hospitaller di Ibelin, Balian menyampaikan bahwa dia merasa Tuhan tidak berbicara kepada dirinya. Knight Hospitaller menegaskan :
By the word religion, I've seen the lunacy of fanatics of every denomination recall the will of God. I've seen too much religion in the eyes of too many murderers. Holiness is in right action and courage on behalf of those who cannot defend themselves. And goodness. What God desires is here and here. And what you decide to do every day, you will be a good man...or not.
Melalui kata agama, saya telah melihat kegilaan para fanatik dari setiap denominasi yang mengatasnamakan kehendak Tuhan.
Saya telah melihat terlalu banyak agama di mata begitu banyak pembunuh.
Kesucian ada pada tindakan yang benar dan keberanian demi mereka yang tidak bisa membela diri sendiri. Dan kebaikan.
Apa yang Tuhan inginkan ada di sini (menunjuk ke kepala) dan di sini (menunjuk ke jantung - hati nurani?).
Dan apa pun yang Anda putuskan untuk dilakukan setiap hari, Anda akan menjadi orang baik...atau tidak.
Ini berhubungan dengan tulisan yang saya buat sebelumnya mengenai Tahapan Spiritual. Ketika seseorang masih berada di tingkatan awal, mereka cenderung lebih terpaku kepada dogma dan label. Mereka menganggap hanya ajaran atau istilah dari agama tertentu saja yang paling benar.
Hal ini dapat mengaburkan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Bahwa yang terpenting adalah proses keterhubungan dengan Tuhan yang dicapai melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan baik. Menjadi manusia artinya kita diberikan kehendak bebas untuk memilih jalan. Kita sendiri yang disuruh memilih jalan terang Tuhan atau kegelapan.

Cari Persamaan
Ketika Balian melihat banyak laki-laki Muslim bersujud di pantai, sersan dari Kerajaan Inggris berkata, "Subhana Rabbiyal 'Adzim". Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung. Balian merasa doa kedua belah pihak sebenarnya sama.
Sepemahaman saya sekarang, Sang Pencipta memang hanya ada satu. Semua manusia (pada hakikatnya) sebenarnya berdoa kepada Sang Pencipta yang sama. Tetapi pemahaman ini menjadi rancu ketika hal-hal yang JELAS bukan Sang Pencipta mulai dituhankan. Misalnya : percaya jimat, menuhankan manusia lain, pesugihan, dan lainnya. Seseorang yang belum paham akan menyamakan proses menuhankan yang jelas salah dengan label yang berbeda untuk Sang Pencipta di agama lain.

Kehadiran Tuhan
Di adegan ini, Balian merasakan keputusasaan. Dia merenung di padang gurun karena merasa Tuhan tidak berbicara kepada dirinya. Semak belukar dalam konteks Kristen adalah simbol bahwa di sana Tuhan hadir. Ini dibuktikan ketika Knight Hospitaller tiba-tiba muncul di padang gurun dan pergi tanpa jejak. Bahkan tidak ada debu yang tertinggal ketika dirinya pergi. Ini karena Knight Hospitaller dilambangkan sebagai malaikat Tuhan.
Sebagai manusia, kita memahami bahwa kehadiran sesuatu hanya akan masuk akaln ketika hal tersebut berfisik. Dapat dilihat, dapat didengar, dapat dibau, dan lainnya. Tetapi Tuhan merupakan energi yang tidak memiliki wujud fisik. Berkomunikasi dengan Tuhan berbeda dengan berkomunikasi terhadap makhluk hidup berfisik lainnya.
Berkomunikasilah ke Tuhan melalui intensi yang tulus, radiasikan perbuatan baik, rasa syukur, dan Cinta kasih. Dengan begitu, Tuhan pun akan nyata kita rasakan.


Bagi saya yang menarik adalah pesan dari Knight Hospitaller bagian ini :
The reckoning is to come for what was done 100 years before. The Muslims will never forget ..... nor should they.
Pembalasan akan datang atas apa yang telah dilakukan seratus tahun sebelumnya. Orang-orang Muslim tidak akan pernah melupakan... ...[jeda]... dan memang seharusnya mereka tidak.
Dalam adegan ini, Knight Hospitaller sebenarnya membahas perang salib pertama dimana umat Kristen membantai umat Muslim. Yang menarik adalah bagian terakhir setelah jeda yang artinya adalah umat Muslim sebaiknya tidak melupakan kejadian tersebut. Hal ini diungkapkan dengan tenang dan dari posisi Knight Hospitaller yang berada di pihak Kristen. Hal ini mencerminkan kerendahan hati untuk mengakui sebuah kesalahan. Kesalahan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukan kesalahan yang dipandang dari kaum tertentu atau ajaran dogma tertentu. Salah ad-Din pun sebenarnya berperang bukan tanpa alasan dan juga karena tekanan dari penasihatnya.
Fanatisme dari kedua belah pihak hanya akan memberikan penderitaan.


Menyadari Kekuatan Tuhan Dalam Diri
Ketika Balian pergi meninggalkan Yerusalem, Imad ad-Din, ksatria yang dilepaskan Balian mengucapkan :
And if God does not love you...how could you have done all the things that you have done? Peace be upon you,
Dan jika Tuhan tidak mencintaimu... bagaimana mungkin kamu bisa melakukan semua hal yang telah kamu lakukan? Damai sejahtera bagimu.
Salah satu alasan seorang manusia mudah capai dan menyerah adalah karena belum mampu menyadari kekuatan Tuhan yang mendorong dirinya melakukan sesuatu. Mungkin hal yang kita capai terlihat sepele jika dibandingkan orang lain, tetapi jika dari hal sepele saja peran kekuatan Tuhan belum bisa disadari, maka pencapaian besar lainnya akan sulit terjadi.
Kita harus ingat bahwa semua yang terjadi di kehidupan manusia merupakan kelayakan manusia tersebut. Bertanggung jawablah pada hal kecil, maka tanggung jawab besar akan diberikan. Sadarilah kekuatan Tuhan di dalam hasil terkecil, maka hasil besar akan dapat dicapai juga karena kekuatan Tuhan.


Berperang Karena Tuhan
Tiberias merupakan Ksatria bijak dan berpengalaman. Tetapi pada saat kekalahan Guy de Lusignan menghadap Salah ad-Din, Tiberias menyadari sesuatu. Dia telah memberikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan Yerusalem. Dia mengira perang ini adalah untuk Tuhan, ternyata perang ini hanya untuk memperebutkan kekayaan dan wilayah. Dia malu akan hal ini.
I have given Jerusalem my whole life. Everything First, I thought we were fighting for God. Then I realized we were fighting for wealth and land. I was ashamed.
Sebagai manusia kita mungkin pernah mempertahankan keyakinan kita mengenai hal apapun. Kita menganggap orang lain salah, sedangkan diri kita yang paling benar. Sikap yang bijak adalah melihat situasi tersebut dengan sudut pandang yang lebih luas dan berani mengakui kesalahan yang pernah kita buat. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna, kita masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi yang terpenting adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik ketika sadar bahwa hal yang sebelumnya dilakukan mempunyai tingkat kebenaran yang lebih rendah.

Ketika mempertahankan Yerusalem, Balian pun mengatakan bahwa tidak ada satu pun dari kedua belah pihak yang sebenarnya saling mengenal. Artinya, perang ini merupakan hasil dendam orang lain yang diturunkan.
Kita pun dalam kehidupan sekarang dapat memilah dan memilih semua tindakan yang kita lakukan. Apakah benar sebuah hal buruk itu muncul dari kita? Atau dimunculkan oleh orang lain dari luar diri kita untuk membenci pihak lain? Sejarah memang tidak boleh dilupakan. Tetapi tiap dari kita mempunyai kehendak bebas untuk memilih hal baik dan mengubah masa depan kita sendiri.


Ketakutan Berdasarkan Agama
Masih banyak orang-orang yang menghubungkan proses keselamatan dan keterhubungan dengan Tuhan dengan agama. Agama merupakan jalan masuk agar seorang manusia dapat belajar mengenai keterhubungan dengan Tuhan.
Keterhubungan dengan Tuhan yang sesungguhnya akan terjadi ketika seorang manusia bersih secara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Bukan karena menganut kepercayaa tertentu. Inilah yang saya dapatkan dari proses perjalanan spiritual saya. Memahami 1 agama saja bisa jadi kurang. Kebenaran Tuhan tersebar di manapun dan dapat diberikan dari siapa pun. Dengan memperluas realitas pemahaman yang ada dan menerima semua kebenaran Tuhan dari segala arah, maka kebenaran Tuhan yang utuh akan dapat dipahami.

Tuhan Maha Pengasih
Bagi seseorang yang baru mengenal keterhubungan dengan Tuhan, bisa jadi dia merasa Tuhan mempunyai banyak aturan yang harus diikuti. Tuhan adalah makhluk supranatural yang dapat memberikan hukuman bagi mereka yang tidak mengikuti aturannya.
Pada adegan ini, Uskup melarang Balian untuk membakar korban perang, karena memang dalam Kristen, mengubur adalah opsi yang terbaik agar mereka semua dapat "bangkit" ketika Kerajaan Allah datang di akhir jaman.
Tetapi seiring pemahaman spiritual saya bertambah, saya paham bahwa keputusan Balian ini mencerminkan kebenaran yang lebih tinggi. Banyak kebenaran Tuhan mempunyai arti yang sebenarnya bukan berfisik. Walaupun tubuh fisik adalah suci. Tetapi yang lebih penting adalah kesucian jiwa yang ada dalam tubuh itu.
Banyak dogma yang ditegakkan dengan kekerasan. Dogma yang ditegakkan hanya karena itu tertulis pada kitab suci, tetapi melupakan cinta kasih dalam proses pemahamannya. Tuhan adalah Maha Pengasih. Kebenaran Tuhan pada akhirnya akan selalu menyelamatkan manusia yang memahami kebenaran diriNya secara utuh.


Ego yang Dibungkus Sebagai Kehendak Tuhan
Di dalam film ini kita akan sering bertemu dengan adegan yang menunjukkan bahwa manusia mampu memelintir ajaran apapun, termasuk ajaran kebenaran Tuhan agar menjadi sebuah perintah untuk memuaskan egonya. Biarawan ini menyampaikan pesan bahwa membunuh orang kafir menurut Paus adalah bukan sebuah pembunuhan, melainkan jalan menuju surga. Pada perang memperebutkan Yerusalem, kedua belah pihak yang mempunyai ego tinggi menganggap pihak lain wajib dimusnahkan.

Hal ini dipertegas ketika seorang knight hospitaller (yang dilambangkan sebagai malaikat utusan Tuhan) memberikan opini kepada Balian bahwa yang menyuruh membunuh bukan Tuhan ataupun raja Yerusalem pada saat itu.
Ego manusia adalah penghalang manusia terbesar untuk mencapai kesucian. Berwaspadalah dan mulailah untuk mencari cara memahami jati diri kita saat ini.


Godfrey mempercayai bahwa Yerusalem sebenarnya bukan sebuah kerajaan yang memiliki bentuk fisik saja. Tetapi kerajaan yang patut diperjuangkan adalah Kingdom of Conscience. Kerajaan berdasarkan prinsip moral, hati nurani, dan empati. Bukan kerajaan yang ada karena kekuasaan duniawi. Itulah arti dari Kingdom of Heaven, Kerajaan Surga sebenarnya.
A new world. A better world. A kingdom of conscience... a kingdom of heaven.

Dalam perjalanan spiritual saya, saya menemukan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya white lies , kesombongan kecil, kemarahan kecil, atau hal buruk lain yang kadarnya kecil. Hal buruk adalah hal buruk. Titik. Semua hal baik dan buruk akan kembali ke jiwa yang menciptakan.
Tidak ada manusia yang sempurna dalam menjalani kehidupan. Tetapi kita harus menyadari bahwa hanya kesadaran terhadap kesucian diri secara total yang mampu menyatukan jiwa kita kepada Sang Pencipta.




Quod Sumus, Hoc Eritis
Di kastil Ibelin, Balian melihat tulisan latin 'Quod Sumur, Hoc Eritis'. Tulisan ini berasal cerita legenda moral di abad pertengahan dengan judul "The Three Living and The Three Dead". Tiga orang yang masih hidup (biasanya bangsawan), diberikan pesan oleh tiga orang yang telah meninggal. Pesan tersebut adalah :
Talis eras, talis ero.
Talis ero, talis eris.
Quod sumus hoc eritis.
Ut nos fuistis, sic vos eritis.Seperti yang engkau dulu, begitulah kami sekarang.
Seperti yang kami sekarang, begitulah engkau nanti.
Apa yang kami sekarang, itulah yang akan kalian jadi.
Seperti kami dulu adalah kalian, seperti kalian sekarang adalah kami.
Pesan ini sama dengan pesan memento mori, mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan mati.
Waktu yang diberikan dari lahir sampai kematian merupakan waktu berharga yang seharusnya digunakan manusia untuk menyadari semua kesalahannya, melakukan hal baik, dan menerima segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya. Singkatnya, waktu hidup adalah waktu untuk melakukan penyucian jiwa. Membersihkan jiwa dari segala kegelapan yang ada.
Semua akan dimulai dari proses mencari jati diri, menyadari kesalahan, menerima kesalahan, meminta maaf dan memaafkan, kemudian melakukan hal baik.
Sadari secepat mungkin bahwa pada akhirnya kita akan mati. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menyucikan jiwa.

Kesimpulan
Karena pada akhirnya, Kingdom of Heaven (Kerajaan Surga) bukanlah sebuah tempat atau lokasi yang baru akan kita tuju setelah kita mati, melainkan sebuah Kingdom of Conscience (Kerajaan Hati Nurani) yang harus kita bangun di dalam diri kita, setiap hari, selama kita masih bernapas, agar jiwa kita dapat menyatu dengan Sang Pencipta.