
Beberapa tahun terakhir ini saya terlalu fokus untuk membaca buku non fiksi. Tidak intensif sih, pas waktu butuh aja. Seperti self-help dan buku bisnis. Lama-lama capek juga. Refreshing nonton film dan game terlihat tidak produktif (hehe). Terlalu mudah untuk hanyut dan bermalas-malasan. Barusan saya sempat tertarik untuk mengoleksi kartu pokemon TCG. Akhirnya saya memutuskan untuk “mengoleksi” buku yang saya baca saja. Maka dari itu desain cover bukunya seperti kartu pokemon graded by PSA.Sepertinya buku akan menjadi lebih baik. Buku FIKSI maksud saya. Melatih visualisasi dan imajinasi. Membuat pikiran lebih santai walaupun terkadang informasi yang disampaikan sifatnya tersirat dan butuh berpikir lebih keras untuk memahami.Buku fiksi yang akhirnya saya pilih adalah The Alchemist karya Paulo Coelho. Ini buku yang sudah menjadi incaran saya sejak lama, tetapi baru sempat saya baca.
Saya membaca yang versi inggrisnya. Menurut saya pemilihan katanya sederhana. Tidak ada kata-kata advance english, jadi membuat lebih mudah dipahami. Cerita The Alchemist ini merupakan sebuah cerita pengibaratan besar bagi seseorang untuk berani melakukan “keinginan”nya.
“Keinginan” ini menurut saya dapat berubah labelnya seiring bertumbuhnya pemahaman manusia tersebut. Bisa menjadi cita-cita, tujuan hidup, bahkan misi jiwa.
Saya suka buku yang menggambarkan detail lokasi, situasi, dan pemandangan dengan jelas. Buku ini menceritakan wilayah Andalusia, Tangier, dan Mesir dengan sederhana. Kebanyakan saya melengkapi visualnya dengan mengingat budaya dan pernak-pernik Arab yang saya lihat dari film, buku, dan internet.
Banyak yang berpendapat buku ini terlalu sederhana. Menurut saya, ini merupakan sebuah nilai plus. Saya merasakan perasaan semangat yang dialami oleh karakter buku ini. Perasaan cemas dan bimbang ketika menghadapi sebuah konflik. Yang utama adalah, ada aspek ketenangan yang saya rasakan ketika penulis menceritakan apa yang dialami si karakter.
Angin yang berhembus mengenai wajah.
Sinar rembulan yang lembut.
Dinginnya malam.
Ada banyak karakter yang mudah diingat di dalam buku ini. Ada yang diibaratkan sebagi pembaca, Sang Pencipta, ketakutan kita, bantuan, rasa menyesal, keberanian, dan sebagainya. Kita bebas untuk memberikan penafsiran terhadap karakter-karakter tersebut.
Buku ini secara keseluruhan mengajarkan untuk :
- berani melangkah ke sebuah ketidaktahuan
- berani membuat keputusan
- tidak serta merta kepada nasib
- memahami adanya Pencipta
- berserah ke Pencipta
- peka terhadap pertanda
- tidak percaya akan kebetulan
Mungkin ya kalau buku ini saya baca di tahun 2000an, saya sepertinya tidak akan paham terlalu dalam. Waktu itu lagi seru-serunya baca Harry Potter!
Di waktu sekarang, di mana saya sedang mendalami proses spiritual, buku ini mempunyai banyak makna mendalam bagi saya.
Yang saya pahami, setiap jiwa manusia memiliki misi yang harus dijalani dan diselesaikan. Setiap orang memegang peran yang berbeda dan semua sama pentingnya. Di kedalaman hati, sebenarnya kita masing-masing dapat merasakan dan mengenali misi jiwa itu. Namun, dalam perjalanan hidup, misi utama itu sering tertutupi oleh misi-misi lain yang sebenarnya buka misi jiwa kita. Belum lagi tertutup oleh ego-ego manusia. Ingin menjadi yang ter-apapun dibandingkan dengan orang lain.
Setelah seseorang berhasil mengidentifikasi misi jiwanya, masih butuh keberanian untuk melangkah. Melangkah ke sebuah hal yang tidak kita ketahui. Disinilah keraguan dan ketakutan mulai muncul. Insting manusia berkata untuk tetap melakukan hal yang nyaman saja, tidak perlu untuk melakukan perubahan.
Padahal, di dalam perubahan itulah seorang manusia akan mendapatkan pemahaman akan cara kerja dunia ini yang sebenarnya. Entah perubahan baik, atau perubahan buruk, jika manusia tersebut dapat mengamati polanya, dia akan mengetahui, hal apa yang sebenarnya selaras dengan kehendak Sang Pencipta.
Sebagai makhluk yang dibuat sesuai dengan citra Sang Pencipta, kita sebenarnya memegang kunci utama untuk mengetahui semua rahasia di alam ini. Yaitu kunci untuk dapat berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Yang sepemahaman saya sekarang, hanya akan dapat dilakukan ketika jiwa seseorang bersih dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Bagi yang belum membaca buku ini, saya sangat merekomendasikan untuk memasukkan buku ini ke wishlist buku kalian.