Select Page

Pembuka

Jika kita membatasi diri hanya karena perantaranya, maka kebenaran Tuhan secara utuh tidak dapat hadir dalam hidup kita.

4 tahun lalu, saya bertemu dengan seorang ibu-ibu. Secara penampilan, ibu ini seperti ibu-ibu biasa. Terkadang rapi menggunakan kebaya, terkadang pakai kaos, ya… pakai baju pada umumnya. Namun tiap saya hadir di ruangan yang sama dengan ibu ini, jantung saya berdebar dan ada sebuah ketenangan yang muncul. Ibu inilah yang mampu mengubah cara saya “mendengar”.

Yang saya maksud dengan mendengar adalah mengenal diri sendiri, lebih memahami makna hidup, mengetahui misi jiwa, dan hidup selaras dengan hukum Tuhan.

Tentunya ini bukan sebuah kebetulan, karena sebelum bertemu ibu ini, secara tidak sadar, perjalanan spiritual saya telah dimulai.

A woman in a white dress reads a book.

Awal Perjalanan

Pada dasarnya, tiap orang memulai perjalanan spiritualnya pada saat dia lahir. Mulai dari hal sederhana seperti dibisikkan sebuah kalimat mengenai Allah Maha Besar, dibaptis, atau dibawa ke tempat ibadah untuk menerima berkat dari Sang Pencipta.

Saya pun begitu. Dari kecil, saya sudah diperkenalkan ke sebuah agama oleh orang tua saya, kemudian di sekolah dipaksa untuk mengikuti acara tertentu karena agama yang saya anut, dan seterusnya sampai dengan jenjang SMA. Menurut saya, ini merupakan tahapan awal saya untuk mengenal proses keterhubungan dengan Tuhan. Saya menuliskan tahapan pembelajaran spiritual di artikel ini.

Titik Awal Perubahan

Pandangan saya mulai berubah di tahun 2007. Saya diajak orang tua saya untuk mengikuti sebuah seminar bertajuk Money Magnet. Pada waktu itu, memang sedang gencar sekali mengenai pikiran bawah sadar, hipnoterapi, dan law of attraction. Dari acara tersebut, saya akhirnya mencari informasi-informasi yang berhubungan dengan kekuatan pikiran. 

A person in a striped sweater leans on their hand.

Jika pikiran sebegitu kuatnya, posisi takdir, usaha, dan Tuhan ini ada di mana? Mungkin Anda sebagai pembaca sekarang sudah memahami hubungan mereka semua. Tetapi bagi seorang remaja umur 18 tahun, pada saat itu saya benar-benar tidak paham. Pikiran saya cuman mau hal instan saja. Buat apa usaha kalau keinginan yang dipikirkan saja bisa terwujud?

Acara demi acara saya ikuti yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan itu. Ada hal yang terjadi dan ada yang tidak.

Kesalahan

Tentunya, pada saat melakukan pencarian, kesalahan dapat terjadi. “Nggak kotor, nggak belajar!”, begitu kata iklan, kan? Ini hal normal. Dalam proses pencarian spiritual, bisa jadi seseorang akan terpapar hal yang berhubungan dengan supranatural. Agar tidak terjadi perdebatan istilah, supranatural yang saya maksud adalah hal gaib (tidak dapat dilihat secara fisik) yang TIDAK berhubungan dengan Tuhan. Sedangkan, spiritual adalah hal gaib yang berhubungan dengan Tuhan. Seperti peningkatan kesadaran dan kemampuan mengolah pikiran dengan baik.

Untungnya, saya sadar dan memutuskan untuk berhenti melakukan semua aktivitas pencarian spiritual. Memberi jeda sejenak.

Saya bersyukur saya terpapar oleh hal supranatural, karena dengan pengalaman ini, saya lebih mempunyai pembanding mengenai keterhubungan dengan Tuhan dalam perjalanan saya di masa depan.

Jangan takut untuk salah. Jangan juga melangkah ke jalan yang salah padahal orang lain sudah mencoba. Temukan keseimbangan dalam hal ini dengan tujuan untuk belajar dan bertumbuh.

Perjalanan Berikutnya

Pada saat jeda waktu tersebut, saya sedang menempuh pendidikan dan pekerjaan di luar negeri. Setelah kembali ke Indonesia, baru proses pencarian spiritual saya berlanjut secara tidak sengaja. Saat itu, saya butuh untuk memulai usaha dan saya mencari komunitas bisnis yang ada di Indonesia.

Di komunitas tersebut, saya bertemu dengan seorang pengajar yang menurut saya berani memasukkan unsur agama dalam bisnis. Saya yakin banyak orang yang telah melakukan hal ini, tetapi dari sudut pandang saya, ini adalah pertama kalinya ada yang berani secara eksplisit mencampurkan cara berbisnis dengan ajaran agama. Bahkan, di acara-acara yang pernah saya ikuti, pembicara kadang menghindari dan menggunakan kalimat yang lebih universal.

Sebagai seseorang yang secara tertulis di KTP menganut agama Katolik, di komunitas tersebut saya belajar mengenai agama Islam. Tidak ada culture shock dari sisi saya, karena sekolah SMP dan SMA saya murid-muridnya tersebar dari seluruh Indonesia dengan budaya dan kepercayaan yang berbeda.

Di komunitas ini saya belajar banyak hal baru. Bisa jadi mereka sebenarnya juga menyesuaikan diri dengan adanya kehadiran saya? Pernah saya diajak teriak “Allahu Akbar!”, ya karena saya tahu artinya, tentu saya ikuti. Tuhan kan satu, pikir saya, juga maha besar. Ada kalanya, seorang anggota komunitas waktu itu bertanya ke saya setelah kami pulang dari sebuah pesantren, “Matt, kamu kok mau kumpul sama kita?”  Iya, kami, jadi saya adalah salah satu panitia yang ikut melaksanakan acara komunitas bisnis tersebut.

Kalau diingat kembali, sebenarnya saya agak kaget dengan pertanyaan itu. Mau jawab apa ya? Waktu itu saya cool aja dengan menjawab “biasa aja”. Karena menurut mereka, orang Kristen di daerah mereka jarang (tidak mau?) ada yang kumpul.

Hal-hal kecil seperti ini perlu saya ceritakan karena di sinilah saya sadar bahwa seseorang dengan pengalamannya akan dapat menarik kesimpulan yang belum tentu tepat. Mungkin tepat berdasarkan pengalaman mereka, tapi belum tentu tepat jika dilihat dari sisi yang lebih luas.

Pada saat yang hampir bersamaan, saya juga mengikuti acara yang mengajarkan untuk menghilangkan emosi negatif. Dasarnya sama dengan acara Money Magnet, tetapi ini lebih praktik untuk fokus menghilangkan emosi negatif. Ada efeknya untuk saya, tetapi jika trigger muncul kembali, emosi negatif juga datang. Tidak akan selesai, yang ada hanya capai.

Kemudian, saya pernah ikut meditasi Zhen-Qi Yun Xing. Duduk berjam-jam agar energi dalam tubuh dapat berputar. Ini juga ada efeknya, sebuah pengalaman yang paling menarik menurut saya. Karena saya dapat merasakan perubahan secara positif di tubuh saya. Kemudian, hari demi hari berlalu dan akhirnya terjadi pandemi di tahun 2020.

A winding river flows through a misty green landscape.

Permasalahan

Sebagai orang yang introvert, pandemi ini awalnya tidak memberikan efek negatif untuk saya. Berteman dengan pikiran saya sendiri adalah hal yang biasa. Tetapi lambat laun, karena memang banyak hal yang dibatasi pada saat itu, stress mulai mempengaruhi saya dan istri saya. Perselisihan lebih mudah terjadi. Overthinking juga, karena lebih mempunyai banyak kesempatan untuk merenung. Ilmu-ilmu dan ajaran yang sebelumnya saya dapatkan mulai lebih saya praktikkan. Tetapi, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Sampai akhirnya istri saya menemukan sebuah channel Youtube yang membahas tentang permasalahan hidup. Dikemas seperti sinetron singkat. Awalnya saya merasa, oh ini mau mengajarkan sesuatu, tapi kok ada video-video yang menunjukkan orang itu benar-benar nangis dan harunya sampai terasa. 

Karena itu, saya pribadi tertarik dan melihat video-video lainnya. Ternyata banyak pertanyaan spiritual saya yang selama ini saya tanyakan terjawab dengan gratis dan dibagikan secara cuma-cama di channel ini. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dibiarkan menggantung. Seperti : jika salah satu tujuan manusia untuk hidup adalah dengan membayar utang (karma) dengan orang lain, bagaimana jika saya hidup di Indonesia dan orang yang saya utangi tinggalnya di Eropa? Kapan saya bertemunya? Ibu yang muncul di video tersebut mampu menghubungkan pertanyaan dengan ajaran-ajaran agama yang ada secara universal dan memberikan contoh pengalaman dirinya dan orang lain. Walaupun saya belum paham dan mengikuti praktik nyatanya, pemahaman yang diberikan oleh Ibu ini membuat saya benar-benar berpikir dan mulai untuk mengevaluasi diri.

Seperti kata Leonardo DiCaprio yang berperan sebagai Calvin Candie di film Django Unchained, “Gentlemen, you had my curiosity, but now you have my attention.”

Awalnya saya hanya ingin tahu, tetapi Gentlewoman yang satu ini menarik perhatian saya! 

Siapa Ibu Itu?

Mungkin dari tadi kalian sudah tidak sabar ya untuk tahu siapa ibu yang saya maksud. Ibu itu sekarang dikenal dengan panggilan Bunda Arsaningsih. Banyak pengajar dan guru yang saya temui yang akhirnya membawa saya kepada Bunda Arsaningsih. Saya sangat berterima kasih kepada mereka semua, karena saya percaya dalam proses pembelajaran, tingkat kelayakan seseorang akan memengaruhi informasi yang dia dapatkan.

Bisa jadi saya tidak siap menerima pelajaran apa pun yang diberikan oleh Bunda Arsaningsih sebelum saya bertemu dengan orang-orang yang mengajarkan pikiran bawah sadar, penyatuan ajaran agama ke dalam bisnis, teman-teman komunitas, dan pengajar meditasi.

Secara garis besar, Bunda Arsaningsih mengajarkan ajaran spiritual yang sifatnya universal. Ajaran cinta kasih, rasa bersyukur, dan berbuat baik yang tidak terafiliasi dengan agama apapun. Beliau dan tim mampu memberikan dan menjelaskan ajaran tersebut dengan ajaran agama yang sudah ada, sehingga kita semua lebih dapat memahami. Bukan agama baru, ya! Tetapi malah memperkuat ajaran yang sebelumnya kita dapatkan.

4 tahun lamanya saya belajar ke Bunda Arsaningsih secara online maupun offline ke Bali. Secara kesehatan, dulunya yang saya selalu sakit panas setahun sekali, sekarang menjadi tidak pernah. Secara hubungan, yang dulunya saya sering berselisih dengan orang-orang tertentu, sekarang menjadi sangat jarang, bahkan ada yang tidak pernah berselisih lagi. Dari segi kemakmuran, apa yang saya butuhkan sekarang lebih mudah dan cepat untuk terwujud. Dari sisi spiritual, saya sekarang jauh lebih tenang dalam menghadapi hal apapun di dunia ini.

Semua yang saya pelajari sebelum bertemu Bunda Arsaningsih merupakan fragmen-fragmen terpisah. Sedangkan, ajaran dari Bunda Arsaningsih merupakan lem, jembatan, dan fragmen yang jauh lebih besar untuk melengkapi pemahaman spiritual dan meningkatkan kesadaran spiritual saya.

Dari pertemuan ini, saya memahami bahwa kebenaran Tuhan dapat kita pelajari dari semua ajaran, dari semua kitab, dari semua orang. Jika kita membatasi diri hanya karena perantaranya, maka kebenaran Tuhan secara utuh tidak dapat hadir dalam hidup kita. Saya sendiri tidak menyangka seorang ibu-ibu yang saya temukan di Youtube dapat hadir di hidup saya dan mengubah hidup saya secara drastis.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Bunda Arsaningsih. Cintaku untuk kalian ❤️.