Select Page

Sebagai orang Indonesia, kita patut bersyukur karena telah diperkenalkan dengan ilmu Ketuhanan sejak masa kecil. Bahkan sila pertama dari ideologi kita adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Walaupun dengan dasar yang sama, mengapa masih banyak perselisihan yang muncul dengan topik Ketuhanan ini?

Awalnya saya pikir ini karena perbedaan agama. Cuman kalau dipikir lebih dalam, semua agama sama-sama mengajarkan ilmu Ketuhanan (keterhubungan dengan Sang Pencipta). Tujuannya sama, tetapi karena caranya berbeda, mengapa hal ini bisa menyebabkan perselisihan?

Apakah karena aturannya? Apakah karena dogmanya? Apakah karena bahasanya? Dari proses pencarian spiritual saya, saya menemukan istilah “kebenaran bertingkat.” Tiap orang mempunyai tingkat pemahaman, tingkat kesadaran, dan tingkat kelayakan yang berbeda dalam memahami dan menerima sesuatu.

Pemahaman tentang kebenaran bertingkat ini dapat dibaca di : https://matthewsugiarto.com/blog/cara-mengetahui-benar-dan-salah

Tingkat pemahaman inilah yang menurut saya menyebabkan perselisihan. Penjelasan yang termudah adalah dengan memahami tingkat pencerahan spiritual yang ada di semua agama besar di Indonesia. Sebenarnya, mereka memiliki pemahaman yang berbeda.

Di Hindu dikenal dengan karma yoga, bhakti yoga, jnana yoga, dan raja yoga. Di Buddha ada sotapanna, sakadagami, anagami, dan arahant. Di Kristen ada katharsis, theoria, dan theosis. Di Islam ada syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Untuk hal ini, saya akan gunakan istilah tersebut karena lebih cocok dalam topik ini.

Istilah tersebut akan saya berikan istilah tahapan agar lebih mudah dipahami, seperti tahap awal, praktek, pendalaman, dan pencerahan.

Syariat (Tahap Awal)

Ini merupakan tahapan di mana kita semua diberikan informasi Ketuhanan dengan segala aturannya yang wajib diikuti. Agama turunan dan pelajaran agama yang diajarkan di sekolah adalah tingkat syariat. Tingkatan ini pengandaiannya seperti mewarnai gambar yang tidak boleh keluar garis. Seseorang dalam tahapan ini disuruh mengikuti aturan tanpa boleh mempertanyakan. Banyak dogma agama yang diberikan pada tahapan ini.

Tarekat (Tahap Praktik)

Jika syariat adalah teori awal yang diajarkan, maka tarekat adalah tahapan untuk praktik syariat. Contohnya, seseorang tidak hanya memahami bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah hal baik, tetapi dirinya mulai praktik untuk benar-benar meminta maaf dan memaafkan.

Yang pada praktiknya, tidak seindah teorinya. Hati berkecamuk karena masih tidak terima dengan hal buruk yang dilakukan orang lain. Teori tidak seindah praktiknya.

Sejauh pemahaman saya, di tahapan inilah perjalanan spiritual seseorang dapat bercabang. Bagi mereka yang takut, bingung, pesimis, dan pada dasarnya masih mengutamakan ego, mereka akan menumbuhkan rasa antipati dalam dirinya terhadap agama dan bisa jadi terhadap Sang Pencipta.

Bagi mereka yang tetap teguh, tangguh, dan setia terhadap proses spiritual, mereka akan terus melakukan pencarian dan tetap praktik. Mereka mempunyai ketangguhan untuk terus mencari tahu apa sebenarnya pola yang terjadi dalam proses spiritual dalam kehidupan manusia.

Hakikat (Tahap Pendalaman)

Ketika seseorang terus melakukan pencarian spiritual ke arah Tuhan, cepat atau lambat dirinya akan bertemu dengan tahapan ini. Tahapan di mana seseorang memahami apa yang tersirat lebih daripada hanya apa yang tersurat.

Contohnya :
Seseorang mengetahui bahwa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang bersih akan lebih baik daripada menggunakan atribut-atribut agama hanya untuk sekadar terlihat “bersih”. Apa yang terlihat dari luar secara fisik, belum tentu merupakan cerminan dari dalam diri. Mata manusia dapat dibohongi, tetapi radiasi energi tidak dapat dibohongi.

Makrifat (Tahap Pencerahan)

Tahap ini merupakan tahap tertinggi dari tahapan spiritual. Seseorang yang sudah mencapai tahapan ini telah benar-benar mempraktikkan ilmu Ketuhanan sampai dirinya dapat menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka mengetahui apa sebenarnya hukum Tuhan yang berlaku.

Contohnya :
Berserah bagi dirinya bukan hanya dalam ucapan saja, tetapi benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orangnya santai, menerima segala situasi, tidak terlihat ingin mengatur orang lain, tidak impulsif, tidak kagetan, dan memiliki hal lain yang memperlihatkan ketenangan dalam dirinya.
Mereka mengetahui bahwa semua hal baik dan buruk yang dia alami diatur oleh hukum tabur tuai. Tidak ada hal yang datang merupakan hukuman, tetapi semuanya merupakan kelayakan yang harus diterima oleh seseorang karena apa yang sudah dirinya lakukan.


Semua tahapan ini tidak dapat dinilai dari umur fisik, tetapi melalui rajin atau tidaknya seseorang mempraktikkan ajaran Ketuhanan yang benar. Tidak selalu seseorang yang umur fisiknya tua pasti sudah masuk tahapan pendalaman atau pencerahan. Bisa jadi dia masih tetap berada di tahapan awal.

Sekarang semuanya tampak lebih jelas, bukan? Seseorang yang berbicara di tahapan hakikat, tidak akan dapat dipahami oleh seseorang di tahapan awal. Bahkan kebenaran pun akan tampak sebagai kebohongan.

Perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan tingkat pemahaman akan selalu ada, karena kita semua harus memahami bahwa tiap orang mempunyai tingkat pemahaman, tingkat kesadaran, dan tingkat kelayakan yang berbeda dalam memahami dan menerima sesuatu.

Pemahaman spiritual yang mengarah ke Tuhan tidak akan dapat dipaksakan. Pelajaran spiritual yang perlu dipahami oleh seorang jiwa akan terus datang ke kehidupannya sampai jiwa tersebut paham dan mulai hidup selaras dengan hukum Tuhan tersebut.

Jiwa kita sendiri pasti pernah berada dalam tahapan-tahapan tersebut. Jadi, tetaplah rendah hati dalam berdiskusi dan menyampaikan kebenaran yang sesuai dengan tahapan jiwa kita sekarang.

27 November lalu saya membuat video dengan tema yang sama. Dapat dilihat di : https://www.youtube.com/watch?v=yjsfIBm7TbU