Kita sering menuntut hidup yang damai dan rezeki yang melimpah. Semoga keberuntungan datang dari segala arah.
Tetapi lupa memeriksa, benih apa sebenarnya yang sedang kita sebar setiap hari dan apa sudah disebar ke segala arah juga atau belum?
Dalam perjalanan mendalami proses kehidupan dan spiritualitas, ada satu hukum alam semesta yang selalu hadir dan menjadi jawaban atas segala peristiwa yang dialami manusia: Hukum Tabur Tuai.


Prinsip dasarnya sangat pasti. Apa yang kita tabur (lakukan), itulah yang akan kita tuai (dapatkan).
Jika kita menanam benih semangka, mustahil yang tumbuh adalah pohon mangga. Begitu pula dalam kehidupan batin dan perbuatan kita.
Ketika kita menanam kebaikan, cepat atau lambat kebaikan pula yang akan kembali memeluk hidup kita.
Sebaliknya, ketika kita menabur keburukan, rasa sakit dan kesulitanlah yang akan kita panen.


Memahami hukum ini dibutuhkan kerendahan hati yang mendalam untuk benar-benar menerimanya. Ego manusia secara alamiah senang membanggakan diri saat menerima hal baik. Mengakuinya sebagai hasil kerja keras sendiri. Namun saat tertimpa hal buruk, ego sering menolak kenyataan bahwa benih awal dari penderitaan tersebut sesungguhnya berasal dari perbuatannya sendiri.


Sekilas, hukum tabur tuai tampak sangat sederhana. Namun dalam praktiknya, hukum ini bekerja sangat presisi dan menyentuh setiap aspek kehidupan kita. Hasil atau tuaian dari apa yang sebelumnya dilakukan tidak akan dapat diturunkan atau dipindahtangankan.


Sering kali kita melihat seseorang yang begitu berjaya dan beruntung di masa mudanya, tetapi hidupnya jatuh dan hampa di masa tua. Mengapa demikian? Jawabannya tetap sama: di masa muda ia sedang menikmati hasil panen dari benih-benih baik sebelumnya, namun ia lupa untuk terus menanam benih baru. Akibatnya, ketika memasuki usia tua, tidak ada lagi tanaman matang yang tersisa untuk dituai.


Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan atau cuma-cuma di alam ini. Segala sesuatu diperoleh melalui pertukaran energi dan tindakan nyata yang selaras.
Jika kita menginginkan panen tertentu dalam hidup, itulah benih yang wajib kita tabur terlebih dahulu:

Ingin Sehat? Rawat dan hormati tubuh sendiri, serta bantu makhluk lain untuk memperoleh kesembuhan.

Ingin Makmur? Hadirlah sebagai solusi yang tulus dalam memenuhi kebutuhan orang lain.

Ingin Relasi yang Harmonis? Tebarkan cinta kasih, pengertian, dan rasa hormat kepada sesama.

Ingin Mengenal Kebenaran Ilahi? Jalanilah hidup dengan kejujuran. Maka kebenaran pun akan datang.

Perlu diingat, menabur benih butuh waktu untuk bertumbuh dan matang. Kebaikan hari ini mungkin belum berbuah besok pagi, namun hukum Tuhan memastikan tidak ada satu benih pun yang lenyap tanpa hasil. Jika hal baik dilakukan dengan pamrih, maka proses ini akan membuat seseorang terikat dengan hasil. Kemudian merasa hubungan dengan Tuhan sifatnya transaksional.

Pahami bahwa hukum tabur tuai adalah hukum yang adil tanpa melakukan perhitungan. Semuanya akan datang di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat, dan di kondisi yang tepat.

Benih yang ditabur pun tidak serta merta datang di kehidupan yang sekarang. Bisa jadi datang di kehidupan yang akan datang. Karena semua rekaman hal baik dan buruk terekam dalam bentuk energi di jiwa manusia.

Inilah jawaban mengapa ada seseorang yang dilihat buruk, tetapi dirinya tetap mendapatkan hal baik.

error: Sorry, copying is disabled. Thanks for reading! 😊