
Series ini tidak sengaja saya temukan di Netflix karena covernya yang keren dan misterius. Saya tidak pernah terlalu serius mengikuti cerita Dracula. Ya tahu-tahu saja dari potongan-potongan novel Abraham Stoker. Mungkin kalian tahu ketika mendengar judul “Bram Stoker’s Dracula”. Ini film yang diangkat dari nover tersebut.
Nama-namanya saya familiar. Van Helsing, Renfield, Harker, Mina, dan Seward. Nama-nama tokoh terkenal di cerita Dracula. Tetapi series ini tampaknya tidak mengikuti alur cerita novel tersebut. Dracula disini sebagai karakter utama. Kita diajak mengenal Count Dracula lebih dalam.
Tentunya dibalik sebuah cerita, terkadang ada kebenaran-kebenaran Ilahi yang dimasukkan. Termasuk di dalam series Dracula ini yang termasuk genre horror. Mungkin untuk sebagian orang menyeramkan.
Bukan thriller, tetapi horror yang memang ada undead, gore, darah berterbangan, dan hal diluar nalar manusia lainnya. Walaupun begitu, ada pelajaran-pelajaran yang dapat kita ambil.

Pembatasan Diri
Seperti dalam cerita-cerita Dracula yang ada, kita tahu banyak peraturan dan mitos dalam proses Dracula “bekerja”. Misal :
- dracula (vampir) tidak dapat bercermin / tidak terlihat di pantulan cermin
- terbakar ketika terkena sinar matahari
- tidak dapat masuk ke sebuah tempat jika tidak diundang masuk oleh penghuni didalamnya
- takut akan lambang salib
Pada akhirnya dibuktikan oleh seorang karakter bahwa itu adalah aturan yang dibuat-buat oleh Dracula sendiri atau orang lain. Saking aturan itu ada sejak lama, bahkan Dracula sendiri sampai percaya dan mempunyai efek berfisik yang menyakiti dirinya. Padahal aturan-aturan itu adalah aturan palsu.
Semua adalah dalam pikiran Dracula sendiri. Walaupun dirinya makhluk mistis yang hidup ratusan tahun, ternyata pembatasan diri juga mempunyai efek pada dirinya.
Sama seperti kita manusia. Bisa atau tidak bisanya kita melakukan sesuatu, semua diatur dari pikiran pribadi. Sering dibilang bodoh, dapat membuat orang bodoh beneran. Ini adalah program yang di–install orang lain. Bahkan jika kita percaya kalau kita bodoh, maka kita sendiri yang terkadang meng-install program itu ke kepala kita.
Jangan serta merta percaya apa kata orang lain sebelum diri sendiri berusaha dengan baik. Orang yang dipenuhi cinta akan berpikiran, berkata, dan berlaku baik. Orang yang kekurangan cinta akan melakukan hal sebaliknya.
Hidup Selamanya
Mempunyai kehidupan abadi merupakan sebuah “anugerah” yang tampaknya luar biasa. Tetapi seiring pemahaman spiritual saya bertambah, kehidupan abadi sebenarnya lebih cocok untuk diberi status kutukan daripada sebuah anugerah.
Ketika seorang jiwa hidup abadi, dirinya tidak mendapatkan berkat “reset” untuk memperbaiki kesalahan dirinya di kehidupan berikutnya (proses reinkarnasi). Maka dirinya akan menanggung semua beban yang sudah dilakukan. Sakit hati, penyesalan, dan penderitaan lain akan dia tanggung.
Tidak mudah untuk seseorang bangkit jika tiap detik dirinya merasakan penderitaan. Dirinya membutuhkan bantuan dari orang lain yang memahami jalan terang Sang Pencipta. Permasalahannya, untuk menarik kebenaran, maka diri sendiri harus melakukan kebenaran. Bayangkan bagaimana seseorang yang terbiasa hidup dalam “kegelapan” untuk melakukan kebenaran? Ini akan menjadi lingkaran setan yang tidak ada selesainya sampai jiwa tersebut sadar.
Takut Menghadapi Sesuatu
Seringnya kita sebagai manusia takut salah. Takut dihakimi. Takut dibilang bodoh. Takut dibilang tidak mendengarkan orang lain. Takut masuk neraka. Padahal untuk melakukan atau menghadapi sesuatu, kita dapat belajar dari pengalaman orang lain. Ada pengalaman-pengalaman yang jelas menceritakan bahwa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan. Sebaliknya juga, ada pengalaman-pengalaman yang sebaiknya dilakukan. Ini mudah. Kita tinggal mengamati dan meniru saja.
Tapi menurut saya, ada juga hal yang abu-abu. Ada beberapa orang yang tidak berani melakukan. Ada orang lain yang berani melakukan. Bagaimana dengan hal ini? Menurut saya, praktek saja langsung.
Tidak semua hal dapat dipelajari hanya dengan mengamati. Bagaimanapun, guru terbaik adalah pengalaman.
Kebenaran Sang Pencipta Sederhana
Satu hal yang selalu saya temukan dalam perjalanan spiritual saya adalah kalimat “kebenaran Sang Pencipta itu sederhana.” Manusia dengan egonya yang memberikan segala macam aturan dan syarat, sehingga tampaknya sebuah hal menjadi rumit.
Seperti halnya Dracula di film ini, kita berharap semua jiwa manusia akhirnya sadar akan kebenaran yang ada. Kebenaran Sang Pencipta sederhana dan dapat datang dari mana pun dan siapa pun. Lepaskan batasan-batasan yang ada. Seperti harus datang dari orang tertentu, agama tertentu, atau ajaran tertentu. Maka kebenaran Sang Pencipta pada akhirnya akan dapat diterima dengan lebih mudah.