Select Page

Beberapa waktu lalu pas lagi asyik scrolling medsos, saya nemu video lucu tentang orang-orang yang ketakutan di dalam rumahnya sendiri pas lampu dimatikan.

Mereka kelihatan panik, seperti lagi dikejar hantu karena berada di tempat gelap.

Saya pribadi terbiasa ke luar kamar menuju dapur untuk ambil minum dalam kondisi gelap. Ya kebiasaan aja, sinar lampu kecil dari barang elektronik di dapur cukup untuk melihat. Tapi malam itu, saya nggak langsung kembali ke kamar, tapi duduk di sofa, menikmati hening dan gelapnya rumah. Saya ingat kalau dulu saya juga takut gelap. Kapan ya ini menjadi kebiasaan? Memori saya tiba-tiba melayang ke zaman saya masih SMP.


Waktu itu sekolah mengadakan acara retret rohani. Di sana kami dibekali pelajaran tentang pelajaran KeSang Penciptaan. Tapi dari semua acara, ada satu sesi yang paling nempel di kepala saya sampai sekarang.


Saya lupa nama sesinya apa, mirip dengan jurit malam. Tetapi tidak ada yang secara aktif menakut-nakuti. Kami semua disuruh masuk ke sebuah labirin dan harus cari jalan keluar sampai akhirnya kembali ke jalan masuk rumah retret. Ini bukan labirin tanaman yang estetik seperti di film Harry Potter ya, tapi lebih mirip labirin bawah tanah. Posisinya ada di level underground sebuah gedung. Buat ke pintu masuknya aja kami harus turun tangga dulu.


Kami disuruh menunggu di pendopo dan dipanggil satu persatu. Sebelum masuk, pembimbingnya memberi tahu cara keluar dari labirin yang kedengarannya gampang banget : kunci buat keluar dari labirin ini cuma satu, yaitu terus meraba dan mengikuti satu sisi tembok.

Kedengarannya gampang, kan? Tapi buat anak SMP yang aslinya nggak suka gelap, rasanya panik luar biasa.
Waktu giliran saya masuk, gelapnya bener-bener pekat. Mau merem atau melek selebar mungkin juga sama aja, nggak ada setitik pun cahaya.


Saya milih buat terus nyusurin tembok di sebelah kiri. Temboknya kerasa kasar, kadang lembap, malah ada bagian yang basah. Di situ pikiran negatif mulai ke mana-mana. Rasa jijik dan mikir yang aneh-aneh soal apa yang lagi saya pegang mulai bikin ketakutan saya menjadi-jadi. Karena mata nggak bisa dipakai, indera peraba, pendengaran, dan imajinasi saya malah jadi sensitif.


Labirin ini punya dua pintu berlawanan arah. Ada 2 kelompok yang dalam waktu bersamaan masuk ke labirin ini. Kelompok pertama masuk dari pintu A dan keluar dari pintu B. Kelompok lain masuk dari arah sebaliknya.


Pas di tengah jalan, saya kaget setengah mati karena tiba-tiba nabrak temen dari arah pintu lain. Dari suaranya dia terdengar biasa aja dan lebih berani menghadapi situasi ini. Tanpa sadar, saya juga lebih memberanikan diri karena tidak mau kalah.


Saya lanjut lagi meraba dinding dan menemukan bagian tembok yang bentuknya aneh. Seingat saya, saya harus jongkok dan masuk ke celah tembok sempit. Mau nggak mau harus berani, karena kalau mundur, ujung-ujungnya saya cuma bakal muter balik ke pintu masuk awal.

Begitu berhasil keluar, ternyata belum selesai Saya masih harus jalan balik ke rumah retret ngelewatin jalan setapak yang lampunya cuma remang-remang. Makin bikin merinding karena udah jadi rahasia umum kalau bukit di atas rumah retret itu adalah kuburan.


Dulu, saya cuma bisa narik kesimpulan yang sederhana :

  • tidak perlu takut gelap, karena ada Sang Pencipta yang selalu menemani
  • dan semua ketakutan itu aslinya cuma ada di pikiran kita aja.


Tapi sekarang, setelah 25 tahun berlalu, pemahaman saya berubah jadi lebih utuh. Apalagi setelah mempelajari spiritual lebih dalam di SOUL dari Bunda Arsaningsih, saya baru benar-benar menyadari makna mendalam dari acara itu.


Dalam menjalani hidup, kita sering dihadapkan dengan ketakutan kita sendiri. Ada yang terjadi karena itulah kelayakan kita atau karena pikiran-pikiran ruwet yang belum terselesaikan. Kondisi gelap, labirin, dan pikiran buruk yang menjad-jadi ibarat masalah yang kita hadapi di dunia ini.


Sedangkan tembok labirin itu sebenarnya simbol yang mengajarkan kita kalau jawaban dari semua permasalahan manusia itu sudah dipersiapkan. Tinggal kitanya aja, mau atau tidak untuk mengikuti “jalur tembok” tersebut, yang merupakan aturan dan hukum Sang Pencipta.


Seringnya ego bikin manusia panik, sehingga kita seakan "buta" di dalam labirin masalah kita sendiri. Padahal, selama kita mau menjalani kehidupan selaras dengan hukum Sang Pencipta, kehidupan kita pasti aman dan terselamatkan. Ketangguhan, keteguhan hati, dan kesetiaan inilah yang harus terus kita latih, supaya diri kita makin siap untuk menerima cahaya, cinta, kasih, energi Sang Pencipta.


Balik lagi ke masa kini, saya masih duduk santai di ruang tamu yang gelap. Melihat tipisnya sinar rembulan di balik pintu kaca dan mendengarkan heningnya malam yang rasanya benar-benar damai.


Ternyata memang tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidup ini. Yang sampai saat ini pun saya masih belajar untuk menerapkan. Realita dan pemahaman yang lebih luas membuat pikiran kita jadi jernih dan hidup terasa lebih bahagia, karena kita tahu kita sedang melangkah sesuai kehendak-Nya.


Semua jawaban sebenarnya sudah disediakan. Tugas kita sebagai manusia cuma satu: lebih peka dan sadar untuk mengikuti jalur tersebut. Karena hanya dengan kesadaran penuh untuk melangkah di jalan cahaya, kita bisa kembali menyatu dengan Sang Pencipta.