

Trigger dari tulisan ini adalah film Nonnas, 2025 yang saat ini diputar di Netflix. Salah satu karakter dalam film tersebut berkata, “to forgive is divine”.Ini bukan pertama kali saya mendengar peribahasa ini. Terdengar sangat tidak asing. Yang lengkapnya adalah to err is human; to forgive, divine.
Penjelasan dari peribahasa ini cukup mudah. Berbuat salah adalah tindakan manusiawi dari seorang manusia. Tetapi untuk memaafkan, itu adalah sifat dari Sang Pencipta. Singkat, padat, tetapi apakah jelas?
Saya berpikiran, apakah dengan peribahasa tersebut, banyak yang orang memahami dan sadar arti sebenarnya? Karena saya yang di masa lalu tidak sungguh memahami peribahasa tersebut. Saya hanya paham bahwa memaafkan adalah hal yang baik. Jika tidak memaafkan, akan ada beban yang tidak selesai dan harus dibawa kemanapun.
Peribahasa yang kurang jelas menurut saya dapat menjadi pemicu seseorang untuk dapat mencari makna yang lebih dalam. Karena jika arti dari sebuah peribahasa diberikan secara jelas, terkadang pendengar lebih meremehkan. Mereka tidak mengalami proses pencarian, tidak mengalami proses praktek. Sehingga sebuah penjelasan terkadang? sering? hanya lewat sebagai angin lalu saja.
Sepemahaman saya sekarang, “to err is human; to forgive, divine” mempunyai arti yang sangat dalam. Tentu kita tahu arti yang di depan. Bahwa sebagai manusia, kita pernah melakukan kesalahan. Bagaimana dengan kalimat selanjutnya? Untuk memaafkan, tidak dapat hanya dilakukan hanya melalui kekuatan manusia saja.
Seseorang mudah untuk memaafkan jika dirinya :
- paham hukum tabur tuai
- memahami proses reinkarnasi
- memenuhi diri dengan cinta Sang Pencipta
- menggunakan kuasa Sang Pencipta untuk memaafkan orang lain
- tidak terikat
Tabur Tuai & Reinkarnasi
Tanpa memahami hukum alam yang utama ini, seseorang akan sangat susah untuk memaafkan. Apa yang sudah diri sendiri lakukan, itulah yang akan didapatkan di masa depan. Melakukan hal baik akan mendapatkan hal baik di masa depan. Begitu juga melakukan hal buruk akan mendapatkan hal buruk di masa depan. Ini semua teraplikasi dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang jiwa.
Mudah bukan? Tetapi sadarkah bahwa hukum ini melintasi ruang dan waktu?
Seorang jiwa yang dirinya masih terisi kegelapan dan masih mempunyai hutang tidak akan dapat menyatu dengan Sang Pencipta setelah meninggal. Jiwa tersebut akan lahir kembali ke bumi untuk melakukan pemurnian jiwa kembali. Hal ini akan berlangsung seterusnya sampai sang jiwa benar-benar suci, secitra dengan Sang Pencipta.
Disinilah mengapa banyak jiwa yang tidak sadar bahwa apa yang dialami dirinya, belum tentu terjadi di kehidupan saat ini. Jika ini tidak dipahami, maka segala hal buruk yang terjadi dalam hidupnya karena orang lain, maka akan dipahami murni sebagai kesalahan orang lain.
Tetapi jiwa yang memahami hukum tabur tuai dan reinkarnasi, dirinya akan rendah hati dan memahami semua hal dalam lingkup yang lebih luas. Bisa jadi sebuah hal buruk adalah dia sendiri yang memulai. Sehingga kesalahan orang lain akan sangat mudah untuk dimaafkan. Karena itulah yang merupakan tuaian atas apa yang dia perbuat di kehidupan masa lalu.

Cinta Sang Pencipta & Ego Manusia
Semakin seorang jiwa memahami dan menerapkan hukum tabur tuai dalam kehidupannya, maka dirinya akan sadar untuk selalu melakukan hal baik. Secara pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Makin dirinya hidup selaras dengan hukum di alam ini, maka kekuatan Sang Pencipta yang masuk dalam dirinya pun semakin besar. Salah satunya adalah dengan merasakan cinta Sang Pencipta hadir dalam dirinya. Bahwa semua hukum alam yang ada, semua kejadian yang kita alami, sebenarnya itulah bukti cinta Sang Pencipta terhadap semua makhluk ciptaannya.
Bayangkan jika seorang jiwa tidak diberikan cara untuk melakukan penebusan kesalahan dirinya, maka dirinya akan selamanya berada dalam kuasa kegelapan. Hukum tabur tuai dan proses reinkarnasi adalah sebuah cinta-Nya.
Ketika mengalami kuasa Sang Pencipta, maka kita akan memahami segala sesuatu dengan lebih luas. Memaafkan orang lain menjadi lebih mudah.
Sejatinya memaafkan orang lain adalah bukan untuk orang lain. Tetapi untuk pertumbuhan diri sendiri. Dengan memaafkan orang lain, maka jiwa kita tidak terbebani oleh hal negatif yang menghambat pertumbuhan ke arah Sang Pencipta.