Select Page

Kebenaran Bertingkat

Ketika berbicara mengenai kebenaran, ada 2 macam kebenaran yang didiskusikan. Yaitu kebenaran menurut pemahaman manusianya dan kebenaran Sang Pencipta.

Untuk memahami dan mengalami sebuah kebenaran, manusia memerlukan :

  • Kesadaran
  • Kelayakan
  • dan pemahaman

Contoh yang menurut saya mudah diipahami adalah warna. Di tingkat anak TK, warna merah hanya dikenali satu saja. Semakin berkembang seseorang dan naik tingkat, pengetahuan dan pemahamannya juga bertambah. Di tingkat SMP - SMA mengetahui maroon, vermillion red, dsb. Bahkan di tingkatan yang lebih tinggi, warna merah dilambangkan dengan hex code #FF0000. Hex code ini membuat informasi sederhana (warna merah), menjadi lebih detail. Apakah merah biasa? #FF0000 atau kah merah orange yang lebih terang #FF3018 ?

Inilah yang dimaksud dengan kebenaran bertingkat.

Pertanyaannya adalah di tingkatan mana pemahaman kebenaran diri sendiri?
Ditingkatan mana kebenaran orang lain?

Contoh warna diatas adalah contoh yang sederhana. Realitanya, kesadaran, kelayakan, dan pemahaman tiap orang mempunyai waktu dan kecepatan berkembang yang berbeda. Sehingga hal ini menimbulkan perbedaan tingkat kebenaran yang dipahami.

Semua orang tau gosip itu buruk. Benar kan? Menceritakan dan mendiskusikan kejelekan orang lain adalah sebuah hal buruk. Tetapi hal ini tetap ada. Terkadang di sebuah kondisi tertentu malah didukung dan dibenarkan, padahal sudah jelas salah. Mengapa? Karena kesadaran tiap orang berbeda. Perbedaan pemahaman inilah contoh kebenaran memang bertingkat. Semua tergantung dari ego manusia.

Menerima Kebenaran Tertinggi

Semakin sebuah informasi mendekati kebenaran Sang Pencipta, maka semakin besar kelayakan yang dibutuhkan seorang manusia untuk menerimanya. Maka dari itu dalam proses spiritual, berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik adalah pelajaran utama. Karena hanya dengan melakukan hal-hal tersebut, kebaikan juga akan datang, termasuk informasi kebenaran Sang Pencipta.

Ini merupakan salah satu hukum alam yang paling utama. Yaitu hukum tabur tuai, hukum karma, atau hukum dzarrah. Semua hal yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh seorang jiwa akan mempunyai konsekuensi yang setimpal.

Berbuat baik akan menarik hal baik datang.
Berbuat buruk akan menarik hal buruk datang.

cahaya dan gelap tidak akan pernah dapat menyatu

Maka orang yang sering berbohong, konsekuensinya akan menarik informasi penyesatan datang dan akan terjauhkan dari informasi kebenaran alam.

Dengan memahami hal ini, kita akan menjadi lebih bijak berperilaku, bijak dalam menyebarkan informasi, dan bijak dalam berkomunikasi dengan orang lain yang mempunyai tingkat kebenaran berbeda.

Informasi ini seringnya diikuti dengan pertanyaan : “Kalau sekarang saya tahu informasi X adalah kebenaran tertinggi yang saya tahu, padahal masih ada kebenaran yang lebih tinggi lagi, bagaimana saya menyikapi informasi X ini?”

Ini adalah pertanyaan yang saya pikirkan dan tanyakan dulu.
Sepemahaman saya sekarang, jawabannya adalah bersifat netral saja. Tiap jiwa manusia mempunyai radiasi energi dalam berpikir. Radiasi ini juga akan keluar karena intensi. Jika memang dalam proses penyampaian informasi X tersebut tidak ada ego yang terikat (tidak memaksa, tidak takut, dsb), maka pada akhirnya hal baik yang akan menyelamatkan diri sendiri untuk dipertemukan dengan informasi yang kebenerannya lebih tinggi.

Ego

Satu hal yang merupakan penghambat terbesar seorang manusia dalam bertumbuh adalah ego. Seringnya ego dipahami sebagai "egois" yang artinya hanya mementingkan diri sendiri. Tetapi, ego mempunyai bentuk yang luas.

Keserakahan, kesombongan, kemarahan, kemelekatan, kesedihan, dan semua perasaan negatif merupakan bagian dari ego.

Dalam proses menerima kebenaran yang tingkatannya lebih tinggi, ego yang muncul bisa dalam bentuk :

  • Tidak terbuka
  • Terlalu fanatik
  • Sombong, merasa pemahamannya adalah yang paling benar
  • Ketakutan, takut tersesat, takut salah

Lagi-lagi salah satu fokus pelajaran spiritual adalah melepas ego. Menyadari bahwa sifat tersebut ada di dalam diri, menerima, mengetahui konsekuensinya, dan kemudian berusaha untuk melepas ego tersebut.

Bagaimana Cara Tahu Benar dan Salah?

Kembali ke judul awal post ini. Bagaimana cara tahu benar dan salah?

Sebenarnya kita semua sudah tahu mana yang benar dan salah menurut norma sosial. Benar salah yang secara umum diakui oleh masyarakat dan budaya di tempat kita hidup (Indonesia).

Yang belum adalah mengetahui apakah kebenaran tersebut mempunyai tingkatan tertinggi yaitu kebenaran Sang Pencipta atau bukan. Sepemahaman saya sekarang untuk dapat meningkatkan kelayakan menerima kebenaran Sang Pencipta, adalah melalui cara berikut :

1-Mengolah Pikiran Menjadi Baik

Pikiran adalah sumber utama sebuah hal terjadi di kehidupan seorang manusia. Pikiran adalah sisi yang tidak terlihat yang mempengaruhi perkataan dan perbuatan. Semua dimulai dari pikiran. Seseorang yang rajin mengolah pikirannya, dia akan dapat mengolah perkataan dan perbuatannya menjadi apa yang dia mau. Harapannya yaitu untuk menjadi baik.

Seseorang yang membiarkan pikirannya berkelana liar, memikirkan semua hal apapun yang terlintas, yang kemungkinan besar kebanyakannya adalah memikirkan hal buruk, maka kehidupannya pun akan sesuai dengan apa yang dia pikirkan.

Pikiran buruk akan mendatangkan hal buruk.
Pikiran baik akan mendatangkan hal baik, termasuk kebenaran Sang Pencipta.

2-Meningkatkan Kelayakan

Kelayakan seorang manusia dapat ditingkatkan dengan melakukan hal diatas. Yaitu berbuat baik. Yang sebenarnya hal tersebut adalah sama dengan hidup selaras dengan hukum alam ciptaan Sang Pencipta.

Dalam kehidupan, tidak semua orang mampu menerima kebenaran. Karena jika kebenaran yang ada tidak sesuai dengan ekspektasinya, maka orang tersebut akan tersakiti. Itu baru kebenaran antara sesama manusia. Apalagi kebenaran di alam ini? Bisa jadi orang yang belum mampu menerima kebenaran Sang Pencipta, dia akan merasa kebenaran tersebut adalah sebuah penyesatan.

Akan sama ceritanya seperti teori Heliosentris yang ditemukan oleh Nicolaus Copernicus. Kebenarannya memang matahari sebagai pusat tata surya. Tetapi mereka yang tingkatannya belum sampai disini akan tidak percaya dan melihat informasi ini sebagai sebuah penyesatan.

3-Berserah

Semua yang terjadi di kehidupan manusia akan terjadi di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan orang-orang yang tepat. Ada kalanya informasi tersebut dibagikan oleh seseorang secara verbal, ada yang berupa rekaman video, ada yang berupa buku, ada yang dari teman, ada yang tertulis di tembok, dan media lainnya yang terkadang kita tidak membayangkan sampai sana.

Inilah pentingnya berserah dan tidak perlu takut. Karena semua hal mempunyai energi, ketika diri sendiri mempunyai energi yang memang satu gelombang dengan kebenaran Sang Pencipta, maka informasi yang tidak dalam gelombang ini ya akan lewat saja. Entah mungkin kita tidak terlalu memperhatikan atau memang kita paham bahwa kebenaran informasi tersebut lebih rendah.

4-Kosongkan Cangkir

Ini terdengar klise, tetapi mengosongkan cangkir pikiran untuk menerima sebuah kebenaran adalah hal yang tidak kalah penting. Proses berpikir dan menganalisa dapat dilakukan setelah informasi diterima dengan baik.

Tetapi jika pikiran sudah penuh, tidak ada ruang bagi kebenaran lain untuk masuk, maka ini sudah kalah didepan. Tidak ada yang perlu didiskusikan ketika diri sendiri tidak mampu untuk menerima informasi baru.


Pada akhirnya, semua yang terjadi di alam ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Termasuk kapan waktu dan cara yang tepat bagi seseorang dalam menerima dan memahami informasi kebenaran Sang Pencipta. Cara diatas yang sepemahaman saya dapat dilakukan, agar kehendak bebas seorang manusia lebih dapat mengolah kehendak bebasnya sehingga dapat memilih di jalan yang benar.